Desa Karangasem Mulai Garap PTSL

Desa Karangasem Mulai Garap PTSL

Jumat, 28 Februari 2020


Biro DIY, Gunungkidul, Cakrawalainterprize.online – Desa Karangasem kecamatan Ponjong kabupaten Gunungkidul tahun 2020 ini mulai garap Sertifikat Tanah melaluiPTSL. Demikian Maryanto kades Karangasem ditemui Jumat 14 Februari 2020 di kantornya. Diakui oleh para pemohon sertifikat melalui PTSL dari warga desa Karangasem.

Sedikitnya 500 lembar atau bidang garapan Sertifikat Tanah untuk warga desa Karangasem digarap tahun ini. Sosialisasi tentang penggarapan Sertifikat PTSL ini disampaikan ke warga Karangasem hari Jumat di balai desa setempat. Acara dihadiri oleh tim 9 dari pemerintah kabupaten dan  100 orang warga Karangasem hadiri di dalam rapat di balai desa.

PTSL atau Pensertifikatan Tanah Sistimatis Lengkap ini digarap kelompok masyarakat. Bila dikerjakan oleh perangkat desa atau lembaga desa menyebabkan kelelahan.Karena kelompok atau pekerja PTSL biasanya lembur. Biaya untuk membuat sertifikat tiap bidang atau satu lembar sedikitnya Rp 150.000,- tetapi bila ada transaksi yang lain biayanya bisa lebih.

Banyak diakui oleh penggarap bahwa pekerjaan PTSL juga sering dibilang pekerjaan khusus. Karena itu semua adalah pekerjaan administrasi hidup, yang digarap itu tentang Surat Berharga atau SHM atau Surat Hak Milik yang sah menurut aturan hukum.

Hal itu diakui oleh warga masyarakat yang pernah menggarap Sertifikat itu. Maryanto sebagai kades Karangasem yang telah menjabat hampir 4 tahun ini, urusan sertifikat tanah harus selesai. Pihaknya sangat berharap dengan PTSL ini diharapkan rampung akhir 2020.

Karena pekerjaan sertifikat tanah itu memang pekerjaan yang harus cermat dan hati-hati untuk diselesaikan. Oleh karena itu pekerjaan tentang Sertifikat harus diselesaikan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Karena semua orang tentu tidak mau menyelesaikan pekerjaan yang bila diselesaikan tetapi berdampak negatif.

PTSL di desa Karangasem, menurutnya juga mengakui bahwa pekerjaan tentang sertifikat tanah itu harus cermat. “PTSL itu harus digarap dengan cermat dan teliti. Sehingga di masa depan tidak menimbulkan dampak yang menyulitkan bagi pemilik sertifikat,” jelasnya.

Maryanto menekankan hal tersebut, semua pekerjaan yang berkait dengan Sertifikat Tanah melalui PTSL harus digarap dengan teliti. Supaya setelah terjadi SHM atau Surat Hak Milik, sertifikat itu dicetak sesuai aturan hukum dan harapan pemiliknya. 

Program PTSL di desa Karangasem yang dimulai bulan Februari 2020 ini diharapkan selesai akhir tahun 2020. Penggarap tetap mempersiapkan diri menanggapi PTSL sesuai prosedur yang harus dijalankan. (Sab)