Pemilik Rumah Di Karangrayung Melawan, Petugas Eksekusi Dari PN Purwodadi Mundur

Pemilik Rumah Di Karangrayung Melawan, Petugas Eksekusi Dari PN Purwodadi Mundur

Rabu, 11 Desember 2019


Grobogan –Cakrawalaonline, Sedianya petugas Pengadilan Negeri (PN) Purwodadi, yang dikawal dari petugas TNI/Polri akan melakukan eksekusi sebuah rumah milik Muhadi/Aeni Tri Putika warga Desa Dempel, Kecamatan Karangrayung terpaksa mundur dan ditunda, Rabu (11/12).


Mundurnya petugas eksekusi disebabkan pemilik rumah menolak dan melakukan perlawanan, karena di dalam rumahnya sedang ada hajatan warga dan anak yatim piatu.

Sehingga adu mulut antara petugas dan pemilik rumah tidak dapat dihindarkan, walaupun petugas saat itu ngotot akan melakukan eksekusi.

Nampak keluarga tergugat yakni Muhadi terus menghalangi petugas panitera PN Purwodadi yang hendak melakukan eksekusi, membuat suasana menjadi tegang agak lama karena di warnai adu mulut, karena Muhadi berpendapat bahwa proses persidangan masih berlangsung dan belum ada putusan dari pengadilan.

Bukan hanya itu saja, Sri Handayani salah satu keluarga Muhadi juga mengaku kesal, sebab di rumah dalam kondisi ramai karena tengah diadakan pengajian dan hajatan warga dan anak – anak yatim.

Selain itu ia ngotot dan menolak eksekusi karena dianggap cacat hukum, untuk itu pihaknya akan banding di pengadilan.

Sementara itu Kuasa Hukum Muhadi, yakni Tri Bambang Hernawan mengaku keberatan, dan terus melakukan perlawanan atas tindakan dari PN yang berusaha mengesekusi rumah tanpa adanya putusan dari pengadilan.

“Inikan masih proses hukum tingkat pertama, hingga kini masih berjalan dan belum ada kata incracht. Sehingga putusan pengadilan dianggap cacat hukum,” jelasnya.

Putusan eksekusi rumah ini bermula dari gugatan Sukesiyati yang memenangkan lelang atas utang piutang yang di lakukan oleh Aeni Tri Putika, salah satu anak dari Muhadi pada tahun 2017 yang lalu sebesar Rp 100 juta.

Karena Aeni baru bisa membayar cicilan sebanyak 5x, sehingga pihak Bank yang menjadi jaminan pinjaman melakukan lelang dan akhirnya dimenangkan oleh Sukesiyati.

Namun keluarga tergugatpun kemudian berusaha mengambil tanah dan rumah yang telah dilelang ke pihak penggugat senilai Rp 200 juta, tapi ditolak oleh pemenang lelang.

Sementara itu melihat adanya aktifitas pengajian anak yatim dan menghindari kericuhan antara pemilik rumah dengan petugas akhirnya pihak panitera mengurungkan proses eksekusi. Ng/Awg