Kisruh Pendirian Tower Di Kecamatan Pace, Warga Minta Hentikan Penggalian

Kisruh Pendirian Tower Di Kecamatan Pace, Warga Minta Hentikan Penggalian

Sabtu, 28 September 2019


Nganjuk-Cakrawalaonline,
Pendirian tower di desa Joho kecamatan Pace, pada hari kamis, (26/9) diwarnai aksi protes oleh sejumlah warga di seputar areal yang akan didirikan tower bersama.

Warga desa Joho yang terdampak radiasi tidak menghendaki adanya pendirian tower di pemukiman warga.

Menurut keterangan Paidi, purnawirawan TNI yang mewakili warga setempat mengatakan bahwa, “Kami tidak menyetujui adanya pendirian tower bersama. Karena sebelumnya tidak diajak musyawarah. Begitu kami tanyakan pada pemilik lahan bernama Budi ternyata sudah dalam proses penggalian”.

Paidi mengatakan saat pertemuan di kantor desa Joho, “Kami orang awam sama sekali tidak mengerti dampak radiasi tower. Kami dibayang-bayangi rasa ketakutan, makanya kami hanya ingin hidup sehat. Bukan melarang, akan tetapi pendiriannya digeser jauh dari pemukiman, karena kami semua takut radiasi yang nantinya mengganggu kesehatan. Belum lagi kalau nanti ambruk atau hal-hal lain siapa yang bertanggung jawab? Uang bukan jaminan bagi kami. Intinya mohon digeser saja.”

Sementara kepala desa Joho  Jumali dimintai keterangan mengatakan, “Saya mengikuti masyarakat saya saja. Kalau memang ada dampak radiasi ya jangan didirikan. Tapi kalau ada yang berkompeten menjelaskan bahwa tidak ada dampak apapun dari pendirian tower ya masyarakat saya setuju saja. Dan aturan yang bisa terkena dampak itu saya juga belum tahu. Makanya ini tadi penggaliannya harus dihentikan untuk sementara sampai ada komunikasi dan titik temu.”

Karena keterangan dari koordinator lapangan Bambang selaku penanggung jawab mengatakan kepada awak media bahwa sudah dikoordinasikan bersama pemilik tanah bernama Budi serta tetangga sekitar dan sudah ada sosialisasi sebelumnya sebanyak tiga kali pertemuan didampingi oleh perangkat desa setempat.

 “Kami menjelaskan bahwa radius 40-45 meter itu radiasi frekuensinya sangat kecil sekali. Tidak akan ada dampak terhadap fisik manusia. Kalau ada kekhawatiran robohnya tower juga sudah kami sediakan asuransi. Dan semua warga yang berada di radius tersebut sudah setuju dan sudah tanda tangan. Bahkan kami sudah memberikan kompensasi kepada kepala desa sebesar Rp.150 juta tunai dan clear,” ujar Bambang.

Ia sangat mengharapkan kepada warga setempat untuk mencari informasi tentang dampak pendirian tower. Karena pendirian tower ini juga akan bermanfaat untuk masyarakat luas.

Setelah kejadian ini Bambang akan berkoordinasi dengan pihak di jakarta, karena surat jaminannya sudah ada.

 “Tapi kalau berdasar pokok’e itu yang susah. Dasarnya apa? Contoh saja di kampus ITB dan rumah sakit AJI bandung juga didirkan tower dari kami dan tidak ada yang komplain. Kami masih berharap agar bisa berkomunikasi lagi bersama warga Joho.” lanjutnya.

Sedangkan dari dinas perizinan menjelaskan panjang lebar, “Kalau ada masyarakat yang komplain silahkan datang ke dinas perizinan pasti kami tindak lanjuti. Pengajuan perizinan dari sini memang sudah masuk, tetapi masih dalam proses dan belum disahkan karena surat izin mendirikan bangunan belum ada. Maka untuk sementara proses penggalian supaya dihentikan dahulu sampai menunggu kesepakatan dari desa dan pihak tower,” ujar salah satu staff dinas perizinan.

Mengenai sejumlah kompensasi yang ditanyakan oleh awak media, dinas perizinan menjelaskan bahwa ditempat manapun tidak ada kewajiban membayar kompensasi untuk pedirian tower.
“Coba baca aturan perundang-undangan yang mana yang menyatakan begitu, perda mana yang berbunyi begitu? Itu semua hanya masalah etika saja. Tidak ada kewajiban untuk membayar kompensasi.” Begitu tutup staff perizinan menutup perbincangan. Tin