Lagu Wisata Puaskan Lomba Dusun Sumber

Lagu Wisata Puaskan Lomba Dusun Sumber

Sabtu, 03 Agustus 2019


Biro DIY, Gunungkidul – Cakrawalaonline – Karawitan ibu-ibu padukuhan Sumber desa Girisuko kecamatan Panggang tampil memuaskan dalam lomba padukuhan pada hari Kamis Pon 01-08-2019. Lomba padukuhan tingkat kecamatan Panggang urutan kedua untuk padukuhan Sumber ini terasa beda dengan yang lainnya.

Karena tampilan para biduan putri cantik 17 tahun lalu ini masih membanggakan. Terasa klop banget antara grup panembromo dan para seniman karawitan dalam mengiringi lagu Wisata Gunungkidul itu. “Terasa puas dengan lagu ini,” kata penonton lomba padukuhan ini.

Padukuhan Sumber di sisi barat daya kabupaten Gunungkidul, tepatnya di seputaran bukit Dermo, dekat Sekolah Polisi Negara di dusun Nawungan. Hanya belok keselatan sekitar dua kilometer menuju padukuhan Sumber desa Girisuko kecamatan Panggang.

Di perempatan dusun Bibal ini belok kiri atau belok ketimur sampailah di padukuhan Sumber. Bila belok ke barat akan menuju padukuhan Banyumeneng desa Giriharjo kecamatan Panggang. Dari padukuhan Sumber itulah lagu Wisata Gunungkidul dikumandangkan oleh kelompok wanita setengah baya. Namun nyanyian Wisata Gunungkidul terasa sangat jooss banget.

Sehingga mendapat apresiasi khusus dari Drs Winarno M.Si camat kecamatan Panggang. Digiring oleh ketua panitia lomba tingkat kecamatan panggang yaitu Sumbiyono S.Sos MM, camat Panggang dipersilahkan foto atau selfi bersama para seniwati secantik bintang film, kala itu. “Saya terasa lega bisa berfoto bareng bapak camat,” ungkap seniman itu.

Tidak hanya itu yang mendapat respon positif tentang lomba padukuhan Bunder, termasuk juga seni tradisional Ande-ande Lumut. Bukan Onde-onde lumut, walaupun pakaiannya klumut, tapi tidak bau sengak kok.

Ternyata didekati oleh wartawan tampilan mereka harum, ibarat bintang film kelas nasional di Jakarta. “Tampilan Ande-ande Lumut memuaskan,” kata penonton. Tidak hanya itu pak, “tampilan karawitan ibu-ibu juga baik kok,” kata polisi dan tentara yang hadir dalam kesempatan itu.

Nampaknya lagu Wisata Gunungkidul tetap bertahan sampai akhir zaman. Karena lagu itu lebih pas dinyanyikan oleh orang tepian pantai atau pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di wilayah Gunungkidul. Lagu itu pantas diusut oleh pendengar, karena enak didengar dan dinikmati oleh semua orang. Apa dinilai oleh rombongan tim penilai atau hanya didengar telinga kanan dan dibuang di telinga kiri.

Penulis yakin Lagu Wisata Gunungkidul masuk dalam garapan penting untuk dinilai dan diberi penghargaan. Selama ini penulis belum tahu status lagu itu sampai dimana dibutuhkan dan diperhatikan oleh penggemar dan birokrasi pemerintahan. “Semoga Lagu Wisata Gunungkidul jadi perhatian dan dibutuhkan semua orang,” kata pendengar.(Sab)