Social Items


Dompu- Cakrawalaonline, Siswi SMA 1 Woja seusai  melakukan upacara penurunan bendera," Memilih obyek wisata alam bebas di lereng gunung Kramabura adalah sebuah helatan yang cukup luas untuk menghirup udara setelah melaksanakan detik detik proklamasi Kemerdekaan yang ke 74," tutur Nurhayati, Halimatusaadiah, firdiatun, dan Nanda riskiaulia kepada wartawan (17/8) kemaren.

"Detik detik proklamasi sebuah renungan sejarah yang dapat di lanjutkan insan pendidikan untuk di laksanakan melalui karakter dan nilai budaya yang harus di kembangkan," ujar Aulia saat ditemui wartawan di kramabura.

Detik - detik proklamasi Kemerdekaan R I sebuah catatan sejarah di dunia pendidikan dan helatan karakter semakin maju khususnya Kempo kedepannya.

Melalui Indonesia Dompu khususnya Kempo Rizal S, PD menambahkan karakter pendidikan pencak silat adalah pemersatu Bangsa dengan melalui atraksi pencak silat di laksanakan sebelum detik- detik proklamasi Kemerdekaan RI ke 74 tahun 2019.

Detik detik proklamasi Kemerdekaan belum nikmati sepenuhnya karena relatif kurang sadar aparatur sipil Negara saat membaca proklamasi oleh anggota DPRD Patuwai SH, (17/8). ASN tersebut namanya an: Ish, Mn, dan TM , Melalui upacara detik proklamasi adalah melatih mental guru dan ASN agar memberikan keteladanan yang terbaik untuk anak Bangsa kedepannya. Zun

Siswi SMAN 1 Woja Cinta Alam dan Sang Merah putih


Boyolali-Cakrawalaonline, Berawal dari rasa keprihatinan warga Boyolali melihat informasi yang berkaitan dengan adanya tiga  bersaudara remaja, yang ditinggal pergi ibunya yang tidak kembali selama beberapa bulan, dan ayahnya yang sudah meninggal dunia.

Kini ketiga anak remaja ini hidup sendiri tanpa orang tua dirumahnya. Mereka setiap harinya dibantu oleh tetangganya yang merasa prihatin melihat keadaan ketiga bersaudara ini. Walaupun begitu mereka juga mendapatkan perhatian dari kakak pertamanya yang sudah berkeluarga sendiri dan tinggal di Purwodadi.

Namun perhatian dari kakak pertamanya itu tidak setiap hari selalu ada bersama mereka, karena memang jaraknya yang cukup jauh.

Akhirnya ada warga Boyolali yang prihatin melihat kondisi mereka ini dan mempostingnya ke media sosial, yang ternyata mendapatkan respons dari banyak pihak.

Semakin viralnya informasi tiga remaja bersaudara tersebut yang mengetuk hati warga masyarakat Boyolali dan sekitarnya. Dikarenakan banyaknya antusias warga yang ingin membantu mereka, terbentuklah dari berbagai lintas komunitas dan bersama warga yang ikut serta melakukan bakti sosial merencanakan untuk melakukan bedah rumah, yang dilaksanakan secara gotong royong bersama pada hari yang bertepatan dengan HUT kemerdekaan RI 17 Agustus 2019.

Dengan semangat kemerdekaan dan antusias rasa saling membantu bersama, warga akhirnya melaksanaan bedah rumah tersebut dan berjalan dengan baik, yang bertujuan untuk membantu sesama.

Semakin hari, semakin bertambah dukungan dari berbagai pihak yang ikut membantu dan berpartisipasi dalam berbagai bentuk bantuan dari bahan bangunan, makanan,uang, dan lain-lain.

Diharapkan kejadian seperti ini memberikan dampak yang positif dan lebih baik untuk saling membantu dan memperhatikan saudara disekitar kita yang membutuhkan uluran bantuan dalam kesulitan yang dihadapi dan memperkuat rasa untuk saling bergotong royong bersama dalam segala hal kebaikan.

Rasa bahagia dan terima kasih juga terpancarkan dari keluarga dan seluruh pihak yang terlibat dalam kejadian tersebut. S.bowo

Antusias Tinggi, Bedah Rumah Warga Boyolali Untuk 3 Remaja Tanpa Orang Tua


Grobogan –Cakrawalaonline, Kebakaran kembali terjadi di wilayah Kabupaten Grobogan, yakni tiga rumah di Dusun  Krajan Kidul RT 01/05, Desa Tuko Kecamatan Pulokulon di lalap api, Jum’at (16/8).


Adapun rumah yang terbakar milik Eka Sudrajat  (40), Sobirin  (35) dan Payem (65), ketiganya warga setempat.

Kapolsek Panunggalan AKP Wibowo, SH membenarkan kejadian tersebut.
“kebakaran terjadi sekira pukul 00.30 Wib dilaporkan ke Polsek pukul 01.00 wib,” terangnya.

Bowo juga menceritakan bahwa saksi awal yang melihat percikan api adalah salah satu korban kebakaran yakni Eka Sudrajat  yang saat itu sedang tidur, tiba – tiba terbangun karena mendengar percikan api dan sudah membakar dinding kamar rumah, lalu korban keluar rumah sambil berteriak minta tolong, sehingga membuat warga berdatangan guna membantu memadamkan api, karena sulitnya air, api semakin membesar dan merembet ke rumah Sobirin  hingga ke rumah Payem. Dan api baru bisa dipadamkan setelah tiga mobil Damkar dari wirosari tiba di TKP.

“Rumah yang terbakar milik Eka Sudrajat  berbentuk limasan, dengan ukuran 12x12x3 meter yang terbuat dari kayu campuran, dinding dari kayu campuran, sedangkan rumah Sobirin berbentuk bekuk lulang dengan ukuran 10x10x3meter yang terbuat dari kayu campuran, dinding dari kayu campuran, untuk rumah Payem berbentuk bekuk lulang dengan ukuran 10x10x3meter yang terbuat dari kayu campuran,” ungkapnya.

Masih menurutnya api diduga berasal dari konsleting listrik dari dalam kamar rumah Eka Sudrajat  dan merembet ke rumah yang lainnya.

“Dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa hanya korban ternak satu ekor kambing mati terbakar, diperkirakan kerugian materiil kurang lebih Rp. 130 jutaan,” terangnya. Ng-Awg

Jago Merah Ngamuk Di Pulokulon, 3 Rumah Ludes Dilalap Api




Biro DIY, Gunungkidul – Cakrawalaonline – Lomba Padukuhan Tingkat Kecamatan Panggang, peserta pertama dari padukuhan Blimbing desa Girisekar kecamatan Panggang. Acara ini dilaksanakan hari Selasa Legi tanggal 30 Juli 2019.

Tetapi setelah rombongan tim penilai dari kecamatan terjun di masing-masing RT sehingga acara puncaknya di balai padukuhan Blimbing desa Girisekar kecamtan Panggang kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta.

Rombongan Tim Penilai dari kecamatan Panggang selama berkeliling terjun ke wilayah RT meliputi enam Rukun Tetangga yang ada di padukuhan Blimbing. Mereka untuk meninjau langsung dan menilai segala potensi yang ada.

Termasuk menilai bidang administrasi, potensi home industri, potensi seni atau kesenian, Keroncong dan kesenian Jathilan serta Karawitan maupun Panembromo dan seni lain yang ada di wilayah padukuhan Blimbing.

Selaku MC Lomba dusun Blimbing yang juga penyanyi Keroncong tampil cukup memuaskan semua pihak, termasuk rombongan Tim Penilai dari kecamatan Panggang. Mampu menunjukkan sebagai MC yang supel, kalem, bahasanya halus dan menyentuh semua pendengar. “Puas dengan MC yang cantik ini,” ungkap penonton.

Gardu Ronda padukuhan Blimbing cukup jadi perhatian tim penilai. Sudadiyono dukuh Blimbing  cukup puas dengan hadirnya rombongan Tim Penilai dari Kecamatan Panggang.
Karena lomba Padukuhan Blimbing diadakan yang pertama dan lomba pengagungan yang disebut juga lomba padukuhan ini mendapat perhatian semua pihak.

Sesuai jadwal Lomba tingkat Kecamatan Panggang, tentang Jam Belajar Masyarakat atau JBM mendapat perhatian khusus dari Drs Winarno M.Si camat Panggang. Termasuk yang lain seperti grup kesenian Karawitan dan Penembromo yang ikut lomba dari padukuhan Blimbing, Girisekar, Panggang, Gunungkidul DIY tahun 2019

Demikian lomba padukuhan tingkat kecamatan peserta dari padukuhan Blimbing desa Girisekar Panggang. Peserta lomba urutan pertama ini cukup memuaskan semua pihak. Hal itu menurut salah satu penonton yang tidak mau disebut namanya.

Tampilan Lomba Padukuhan Blimbing Desa Girisekar sampai lima putaran terakhir tanggal 9 Agustus 2019 diikuti oleh padukuhan Pundung Girikarto. Ternyata lomba Padukuhan Blimbing tidak bisa diremehkan.

Kabarnya masih memuaskan semua pihak termasuk rombongan tim penilai kecamatan. Soal perolehan nilai nantinya menjadi kewenangan semua pihak Rombongan Tim Penilai Kecamatan Panggang. Dalam putusannya tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.(Sab)

Lomba Padukuhan Blimbing Meyakinkan




Cakrawala Online Biro DIY, Gunungkidul – Cakrawalaonline.com – Desa Giripurwo kecamatan Purwosari kabupaten Gunungkidul dalam menyambut Peringatan HUT RI ke 74 tahun 2019 ini mendapat jatah sebagai tuan rumah dalam menyambut Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI tahun ini.

Demikian diakui oleh Supriyadi kepala desa Giripurwo kecamatan Purwosari saat ditemui wartawan Cakrawala biro DIY. Supriyadi mengungkapkan bahwa Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI tahun ini dirasa sangat terkesan.

Karena kepala desa beserta perangkat desa dan lembaga desa termasuk tokoh pemuda dan pemudi desa Giripurwo kerja lebih keras menyambut HUT RI ini. Kades mengakui bahwa upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah kecamatan Purwosari setiap tahun selalu digilir.

Selaku kepala desa dan perangkat desa serta lembaga desa, Supriyadi mengucapkan banyak terima kasih kepada Purwana S.IP camat Purwosari yang memberi amanah untuk menyambut HUT RI tahun ini.

“Sebagai tuan rumah dalam peringatan HUT RI tahun ini adalah bagian amanah pak camat Purwana S.IP yang beliau berasal dari desa Giritirto yang masih wilayah kecamatan Purwosari. Saya dukung sepenuhnya tugas mulia ini, karena hal ini adalah rangkaian sejarah yang harus diterima oleh kita semua,” aku kades.

Sebetulnya bagi semua wilayah pedesaan seperti Giripurwo dan desa-desa yang lain di wilayah Gunungkidul ini memang sibuk karena menyambut HUT RI ke74 ini. Tetapi hal itu tidak jadi beban bagi mereka, bahkan hal itu disambut dengan senang hati. Karena peringatan HUT RI hanya setahun sekali.

Pihak kades Giripurwo dan perangkat serta kerabat kerja juga mohon doa dan restu kepada seluruh aparat terkait agar supaya tetap sehat. Sehingga dalam menjalankan amanah yang muliai seperti menyambut HUT RI ini berjalan sesuai harapan kita semua. “Kami mohon doa semoga dalam menjalankan amanah selalu mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Esa,” ungkap kades Supriyadi singkat. (Sab)

Desa Giripurwo Sambut HUT RI Ke-74




Cakrawala Online Biro DIY, Gunungkidul – Cakrawalaonline.com – Dua kyai kondang dari pantai utara Pulau Jawa dan dari pantai selatan pulan Jawa kini telah putus hubungan dalam kaitannya politik dan dakwah agama Islam. Karena H Maimun Zubair telah wafat beberapa hari lalu.

Juru dakwah pantai utara dan pantai selatan ini selama ini selalu berhubungan batin untuk mensiarkan agama Islam. Namun ibaratnya kyai pantai utara yaitu Maimun Zubair kyai tertua dan kyai pandai ini telah pulang ke rahmat Allah SWT. Kemarin, kala kyai ini masih hidup Maimun Zubair sering berhubungan batin dengan KH Ibnu Hajar Saleh Pranolo di dusun Panggang kecamatan Panggang Gunungkidul.

Namun terpantau dari jauh dua kyai ini yang dari pesisir utara ternyata lebih dibutuhkan dalam percaturan politik. Sehingga lebih terkesan sering dieret-eret oleh penguasa untuk mencari atau mengumpulkan jumlah pemilih dalam memenangkan calon pemimpin tanah Jawa maupun Indonesia.

Tetapi itu semua bagi seorang kyai sudah diniati atau sudah berniat untuk beribadah, baik untuk kepentingan dunia dan kepentingan akhirat atau jaman akhir di alam fana kelak. Bagi seorang kyai yang telah semeleh atau menep pikirannya untuk dunia, hal itu menurut beliau untuk kepentingan akhirat juga. Sehingga jiwa dan pikirannya dibutuhkan oleh orang banyak, termasuk yang mengelola negeri ini.

Sekilas yang diketahui penulis adalah bila kyai pantai utara, Maimun Zubair adalah keturunan Sunan Giri. Beliau adalah cucu Sunan Giri, karena keturunan seorang wali, sehingga mereka digemari dan dicintai oleh orang banyak, terutama bagi mereka yang mengetahui tentang sil-silah keturunan mereka.

Beda jauh dengan Kyai H Ibnu Hajar Shaleh Pranolo dari Panggang kecamatan Panggang kabupaten Gunungkidul DIY. KH Ibnu Hajar sering terfokus dalam Ilmu Agama Islam dan ilmu pertanian bagi anak muda di sekitarnya di seluruh pesisir selatan Pulau Jawa.

Mencetak kader-kader handal dan pemuda kuat dalam hidup beragama dan hidup bermasyarakat sebagai anak pondok yang ahli membaca Al Qur’an adalah gemblengan KH Ibnu Hajar. Tetapi tidak khusus Ilmu Agama Islam, para santri Ponpes Aolia yang dikelola KH Ibnu Hajar mencetak generasi yang ahli dalam hidup bertani dan berkebun.

Kelihatan aneh memang, tapi hal itu tidak mengherankan bahwa murid-murid KH Ibnu Hajar yang telah lulus mampu terbang ke negara Arab tanpa kapal terbang. Sulit diterangkan di sini karena kyai ini tak pernah cerita kepada wartawan. Pantas karena beliau keturunan Prabu Siliwangi dari Jawa Barat.

Tidak kagum bagi kyai lain yang sekarang ini KH Ibnu Hajar Saleh Pranolo jadi juru dakwah Pantai Selatan dan Pantai Utara termasuk di dalamnya pulau Jawa. Karena dua kyai tertua di pulau Jawa ini hanya Ibnu Hajar dari Panggang Gunungkidul. Sayangnya Ibnu Hajar jarang cerita tentang keampuhan ilmu yang dimiliki. “Itu nanti untuk anak cucu dan generasi masa depan yang lebih baik,” katanya. (Sab)

Ibnu Hajar Panggang Kyai Tertua Pulau Jawa




Cakrawala Online Biro DIY, Gunungkidul – Cakrawalaonline.com – Lomba Jathilan tingkat kecamatan Panggang berlangsung hari Selasa 13 Agustus 2019 dipusatkan di lapangan Giriharjo kecamatan Panggang. Acara ini diadakan sejak jam 9 sampai jam satu siang. Hasilnya langsung diumumkan oleh dewan kesenian kecamatan Panggang.
                                  
Giriwungu nilainya mencapai 1373 Giriharjo nilainya 1372 dan Girisekar nilainya 1329. Sehingga Jathilan dari desa Giriwungu Juara Pertama dan Jathilan dari desa Giriharjo Juara Kedua serta Jathilan dari desa Girisekar Juara Ketiga. Tiga desa seperti Jathilan dari Girisuko dan Jathilan dari desa Girimulyo dan Jathilan dari desa Girikarto juara empat dan juara lima serta juara enam.

Dalam wawancara jarak jauh Muharyanto sekretaris desa Giriharjo mengaku tidak kecewa atas perolehan nilai lomba di urutan kedua. “Saya mengucapkan terima kasih yang sebessar-besarnya kepada semua pihak yang telah peduli dengan kesenian ini. Semoga kesenian di tingkat desa dan kecamatan seperti Jathilan ini tetap dilestarikan untuk kepentingan masyarakat secara utuh,” jelasnya.

Suwardi Andreas dari Dinas Kebudayaan Kecamatan Panggang mengakui bahwa tampilan Jathilan kali ini memang sulit dalam memberi nilai. Karena mereka tampil dengan serius dan semuanya baik. Sehingga menyulitkan pihak tim penilai lomba Jathilan tingkat kecamatan Panggang tahun 2019.

Salah satu pengurus lomba Jathilan ini mengungkapkan, “Saya mengakui bahwa penggemar Jathilan di wilayah Panggang dan Gunungkidul ini semakin banyak dan penarinya semakin muda dan cantik. Ini merupakan asset yang perlu digarap oleh pemerintah kecamatan maupun pemerintah kabupaten,” papar Suwardi Andreas.

Di wilayah kecamatan Panggang memang banyak grup-grup kesenian tradisional seperti Jathilan. Dari desa Giriharjo terdapat dua grup Jathilan yaitu Turonggo Kembang dan Turonggoharjo pimpinan Tukiran yang lomba ini Turonggo Kembang pimpinan Sabariyanto.

Kata camat Panggang, Drs Winarno M.Si nantinya juara pertama Lomba Jathilan itu bakal diikutkan dalam Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74 tahun 2019. Acara ini akan dimainkan lagi dalam acara puncak HUT RI 74 tanggal 28 Agustus 2019 untuk kecamatan Panggang.

Camat Panggang mengaku lega dengan hari-hari lomba ini baik dari lomba padukuhan tingkat kecamatan dan lomba Jathilan serta lomba Ketoprak tingkat kecamatan Panggang. “Ya bagi kami cukup bangga ya karena segala bentuk kesenian di tingkat desa sampai sekarang masih dilestarikan, bahkan sampai dilombakan seperti ini, ini untuk menyambut dan memeriahkan HUT RI ke 74 di 2019 ini,” ungkap camat. (Sab)

Desa Giriwungu Juara Lomba Jathilan Panggang